Islam Itu Universal, Arab Hanyalah Budaya

Islam Itu Universal, Arab Hanyalah Budaya

24 Feb 2026 | Evergreen

Indonesia adalah negara dengan penduduk dengan pemeluk Islam terbanyak di dunia. Namun, masih banyak orang suka tercampur antara ajaran Islam dan Budaya Arab.

Tulisan ini bukan berarti anti Arab. Tapi lebih kepada ajakan untuk tak menyamaratakan Islam dengan Arab itu sendiri. Kemudian beranggapan bahwa segala sesuatu yang islami haruslah kearab-araban.

Dari sisi pakaian misalnya, citra seorang muslim kadang dinilai dari busana yang dikenakan. Jubah putih, sorban, niqab atau cadar, yang sebenarnya adalah produk budaya yang disesuaikan dengan iklim. Padahal Islam hanya mengatur prinsip, sopan dan menutup aurat. Bukan mengharuskan model spesifik.

Alquran sendiri menegaskan keberagaman budaya adalah sunatullah.

"Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal" (QS. Al Hujurat : 13)

Artinya, keberagaman itu sudah desain Ilahi. Sehingga jangan kemudian dihomogenkan. Iman dan takwa tidak diukur dari seberapa "Timur Tengah" pakaianmu.

Arab di jaman pra-Islam sangat menganut budaya patriarki. Bayi perempuan yang lahir bisa dikubur hidup-hidup. Perempuan tak memiliki hak waris dan segala kebiasaan lainnya yang merendahkan derajat kaum hawa. Itu realitas sejarah. Perempuan hanya dianggap sebagai objek. Padahal di Islam sendiri, banyak tokoh perempuan yang patut dijadikan teladan, seperti Khadijah seorang pengusaha dan Aisyah yang dikenal dengan keluasan ilmunya.

Jadi, kalau sekarang masih ada yang berpikir perempuan tak perlu sekolah tinggi-tinggi dan mengejar karir. Itu adalah sisa-sisa budaya patriarki yang kontradikitif dengan kesetaraan dalam Islam.

Hal berikutnya yang paling sering diserang adalah poligami. Praktik ini sesungguhnya sudah ada jauh sebelum Islam hadir dan menjadi kebiasaan kaum-kaum di masa itu. Dulu, orang Arab bisa punya isteri bahkan sampai puluhan, sampai Islam datang dengan membatasinya hanya empat dan disyaratkan mampu bersikap adil.

“Dan jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah perempuan (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Tetapi jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau hamba sahaya perempuan yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat agar kamu tidak berbuat zalim," termaktub dalam QS An Nissa : 3.

Berikutnya adalah bahasa Arab. Alqurab turun memang dalam bahasa Arab sebagai medium wahyu. Karena Rasul adalah orang Arab, tentu audiens pertamanya adalah sesama sukunya sendiri. Namun, Islam diturunkan untuk seluruh dunia, Rahmatan lil Alamin, bukan untuk bangsa Arab saja. Keislaman seseorang tidak diukur dari logat yang kearab-araban.

Jadi perbedaan utamanya adalah Islam itu memiliki nilai universal, tauhid, keadilan dan akhlak. Tapi Arab adalah konteks sejarah.

Kalau semua yang berbau Arah dianggap lebih suci, maka kita sedang menggeser agama menjadi etnis. Dan itu bertentangan dengan semangat Al Hujurat : 13.

Benar, Rasul adalah orang Arab, tapo musuh pertama Islam juga sesama Arab, seperti Abu Jahal dan Abu Lahab. (**)