Sedot Genangan saat Banjir, Lansia Tewas Kesetrum di Palaran
SAMARINDA. Persoalan banjir yang bertahun-tahun menghantui warga Jalan Ampera, Kelurahan Rawa Makmur, Kecamatan Palaran, memakan korban jiwa. Seorang lansia bernama Jamaludin (70) meninggal dunia setelah diduga tersengat aliran listrik saat berupaya menguras genangan banjir di sekitar rumahnya, Kamis (11/6) pagi.
Peristiwa nahas itu terjadi setelah hujan mengguyur kawasan tersebut dan menyebabkan air kembali menggenangi permukiman warga, sekitar pukul 09.00 Wita. Korban diketahui sedang memasang pompa celup untuk mengeluarkan air yang merendam lingkungan rumahnya ketika insiden terjadi.
Menantu korban, Aziz, mengatakan saat kejadian dirinya berada tidak jauh dari lokasi. Ia mendengar korban berteriak dan langsung bergegas mendatangi sumber suara tersebut.
“Beliau sedang memasang pompa celup untuk mengeluarkan air. Kemungkinan listriknya masih tersambung dan belum sempat dilepas. Tiba-tiba beliau berteriak,” ujarnya.
Saat tiba di lokasi, Aziz mendapati korban telah terjatuh dan masih memegang kabel yang diduga menjadi sumber sengatan listrik. Ia kemudian berusaha melepaskan kabel dan memberikan pertolongan.
“Saya cepat-cepat melepas kabelnya lalu mengangkat bapak. Saat itu beliau masih bernapas,” katanya.
Korban sempat hendak dibawa ke rumah sakit. Namun proses evakuasi terkendala kemacetan sehingga penanganan tidak dapat dilakukan dengan cepat. Nyawa korban akhirnya tidak tertolong.
Insiden tersebut menyisakan duka bagi keluarga sekaligus memicu kembali keluhan warga terkait banjir yang terus berulang tanpa penyelesaian yang dinilai efektif. Menurut Aziz, genangan mulai muncul sekitar pukul 07.00 Wita dan dalam waktu singkat merendam kawasan permukiman.
“Ketinggian air sekitar selutut orang dewasa,” ujarnya.
Ia menuturkan, banjir di kawasan Jalan Ampera hampir selalu terjadi setiap kali hujan turun. Bahkan hujan selama sekitar 30 menit saja sudah cukup membuat air meluap karena drainase tidak mampu menampung debit air.
“Setengah jam hujan sudah penuh. Parit tidak mampu menampung lagi,” tuturnya.
Selain mengganggu aktivitas warga, banjir juga kerap masuk ke dalam rumah dan meninggalkan lumpur setelah surut. Warga mengaku persoalan tersebut sudah berlangsung bertahun-tahun dan berbagai keluhan telah disampaikan ke pihak kelurahan maupun kecamatan.
“Kami sudah sering melapor, tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut yang benar-benar menyelesaikan masalah. Setiap hujan kami selalu was-was karena banjir terus berulang,” sedihnya. (**)