Pelajar di Samarinda Meninggal Tak Wajar, Sempat Dianiaya Teman Bermain

Pelajar di Samarinda Meninggal Tak Wajar, Sempat Dianiaya Teman Bermain

06 Nov 2025 | Kriminalitas

SAMARINDA. Pasangan suami istri (Pasutri) yang merupakan orangtua seorang remaja laki-laki di Samarinda berinisial MR (14), sedang gelisah. Mereka menduga kematian putranya pada Senin dini hari (27/10/2025) lalu tidak wajar.

MR salah seorang pelajar SMP itu diketahui meninggal dunia di rumahnya di kawasan Kelurahan Tani Aman, Kecamatan Loa Janan Ilir (LOJI), Kota Samarinda pada pukul 01.00 Wita.

Keluarga yang awalnya tak menaruh curiga dengan kematian MR telah memakamkan jasad remaja malang itu di Pemakaman Muslimin KM 4 di Jalan Soekarno Hatta, Desa Loa Janan Ulu, Kecamatan Loa Janan, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).

Namun setelah tiga hari pasca dimakamkan tepatnya pada Rabu (29/10/2025) lalu, orangtua MR justru mendapati kenayataan dugaan yang menjadi penyebab kematian putranya itu, yakni lantaran dianiaya teman bermain.

Dugaan penyebab kematian remaja malang itu didapat pihak keluarga dari seorang teman MR berinisial AI, yang menyebut bahwa sebelum tiba-tiba jatuh sakit lalu meregang nyawa MR sempat dianiaya remaja lain berinisial SP (12).

Penganiayaan yang dilakukan SP dengan cara memukul wajah dan beberapa kali menendang perut MR itu terjadi ketika tengah bermain di rumah tetangga yang juga merupakan salah seorang teman mereka.

"Kejadian penganiayaan itu terjadi Minggu malam (26/10/2025) lalu. Kira-kira pukul 20.30 Wita kejadiannya," tutur Sartia (41), ibu kandung MR yang didampingi Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA) Kaltim, Kamis (6/11/2025).

Sartia menceritakan, berdasarkan keterangan AI bahwa ketika itu MR dan SP berselisih yang dipicu pertanyaan dari salah seorang teman mereka kepada SP.

"Anak itu (SP, Red) ditanya teman-temannya 'beranikah sama MR'. Anak itu jawab 'beranilah sama-sama makan nasi'," ucap Sartia mengulang keterangan AI.

Meski diadu domba. MR hanya diam, remaja ini tak menanggapi dengan tetap sibuk bermain ponsel.

"Kata AI, anak itu terus mengganggu anak saya hingga membuatnya kesal. Anak saya lalu menepuk pundak anak itu, tapi malah dibalas dengan pukulan dan tendangan di perut. Kata AI, anak saya sampai menagis karena kesakitan," ucap Sartia lirih.

Setelah penganiayaan itu, MR lantas pulang ke rumah. Ia pun langsung masuk ke kamar tidurnya. Ketika itu kejadian yang dialami remaja malang itu belum diketahui orangtuanya maupun keluarganya.

"Tidak lama masuk kamar tiba-tiba anak saya berteriak, karena katanya kepalanya sakit. Saya sempat menegur untuk tidak teriak, karena tidak enak dengan tetangga. Setelah itu saya oleskan minyak angin di pinggir dahi," ucap Sartia.

Olesan minyak angin itu tak membuat sakit kepala yang dialami MR reda, karena remaja itu terus saja gelisah.

"Tengah malam sekitar jam 12 saya datang ke kamarnya untuk melihat kondisinya, tapi saya panggil tidak merespon. Sekitar jam 1 malam suaranya seperti ngorok. Mulutnya mengeluarkan buih. Tidak lama setelah itu anak saya meninggal," tutur Sartia mengenang kematian putranya di depan matanya.

Tak menungu waktu lama jasad MR lantas dibawa ke rumah neneknya untuk disemayamkan.

"Sampai pagi buih di mulut anak saya terus keluar. Bahkan waktu dimandikan omnya sempat tanya apakah anak saya habis jatuh, karena ada lebam di badannya," ucap Sartia.

Meski orangtua MR yang sama sekali tak menaruh curiga, tetap memakamkan putranya hingga di hari ketiga kerabat mereka mendapat pentunjuk dugaan kematian tak wajar MR.

"Kemudian dipanggil teman anak saya itu (AI, Red), dan diceritakan semua kejadian penganiayaan itu," tutur Sartia.

Pasca mengetahui putranya meninggal tak wajar, Sartia dan suaminya lantas membuat laporan resmi di Polresta Samarinda pada Senin (3/11/2025) lalu.

"Kemudian kami meminta pendampingan dari TRC PPA agar apa yang sebenarnya menyebabkan anak kami meninggal dunia bisa jelas," pungkasnya.