Titik Rawan Banjir Samarinda Kembali Dievaluasi

Titik Rawan Banjir Samarinda Kembali Dievaluasi

29 Dec 2025 | Pemerintahan

SAMARINDA. Persoalan banjir seolah tak pernah tuntas di Samarinda. Secara umum pennaganan di bawah kepemimpinan Andi Harun memang relatif berkurang. Namun untuk mengurangi banjir secara masif masih sulit dilakukan. Namun Pemkot Samarinda terus bekerja keras.

Sejumlah titik banjir kini dikaji, agar masalah banjir bisa terus ditekan. Langkah ini diambil setelah serangkaian koordinasi lintas instansi yang selama ini berjalan. Sejumlah kawasan yang kerap terdampak banjir, seperti Damanhuri, Tanah Merah dan Pampang, kembali masuk dalam daftar prioritas evaluasi.

Wilayah-wilayah ini dinilai membutuhkan penajaman analisis sebelum ditentukan bentuk penanganan yang akan diterapkan. Wali Kota Samarinda Andi Harun mengatakan, pendalaman kajian akan dilakukan secara bertahap mulai pekan depan.

Ia menegaskan, hingga kini belum ada keputusan final terkait pelaksanaan di lapangan. “Saat ini kami masih tahap kajian yang disusun Dinas PUPR (Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang bersama BWS (Balai Wilayah Sungai) termasuk PUPR Provinsi,” tuturnya.

Namun dirinya mengakui saat ini memang sudah ada rencana penanganan banjir yang terbaru, hanya saja belum bisa diekspos ke publik. Menurut Andi Harun, pendekatan tersebut dipilih agar penanganan banjir tidak menimbulkan permasalahan sosial besar dan parsial.

“Belum bisa, karena masih sangat mungkin berubah,” jelasnya.

Ia juga mengisyaratkan bahwa persoalan banjir di Samarinda tidak bisa ditangani secara sepihak karena keterkaitan sistem aliran air dengan wilayah sekitar. Dalam konteks itu, koordinasi awal telah dilakukan dengan Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara, meski masih di level teknis.

“Koordinasi dengan Kukar sudah dilakukan di tingkat teknis. Nanti setelah seluruh kajian ini benar-benar matang, baru akan dilakukan pertemuan antar kepala daerah untuk menyepakati langkah penanganan lintas wilayah,” ungkapnya.

Andi Harun menegaskan, pemerintah tidak ingin tergesa-gesa mengambil keputusan hanya demi merespons tekanan publik jangka pendek. “Supaya setiap langkah yang diambil benar-benar memberi dampak,” pungkasnya. (**)