Efek El Nino Hebat, Samarinda Semakin Panas di Agustus
SAMARINDA. Peringatan bagi warga Samarinda dan sekitarnya. Cuaca panas yang terjadi dalam beberapa hari terakhir, akan semakin terasa hingga beberapa pekan ke depan. Ancaman kekeringan, krisis air dan kebakaran ada di depan mata jika tak diantisipasi sejak dini.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Samarinda membeberkan, meski periode Juli hingga September berada dalam fase netral, pergerakan ekstrem menuju El Nino kuat sudah di depan mata.
Forecaster BMKG Samarinda, Fiona Alya Hanifah, menegaskan, pola ekstrem tahun ini memiliki kemiripan dengan El Nino dahsyat yang pernah menghantam pada 2023 lalu.
"Prediksi menunjukkan kondisi akan mulai mengarah ke El Nino, bahkan pada Agustus diperkirakan intensitasnya sudah masuk kategori kuat," ujar Fiona.
Dampak buruknya sudah terlihat sejak akhir Juli. BMKG mencatat curah hujan di Samarinda hanya berada di kisaran 10 hingga 50 milimeter, angka yang terbilang sangat rendah dan berada jauh di bawah rata-rata historis 30 tahun terakhir.
Anomali iklim ini dipicu kombinasi fatal faktor global dan regional, mulai dari Indian Ocean Dipole (IOD) positif, dorongan angin monsun timur Australia, hingga dinamika suhu permukaan laut Selat Makassar yang makin menekan pertumbuhan awan hujan.
Akibatnya, debit anak-anak Sungai Mahakam diprediksi menyusut drastis. Jika tak ada langkah antisipasi dari sekarang, krisis air bersih bakal melumpuhkan aktivitas warga.
Ancaman ini direspons serius oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda. Analis Kebencanaan Ahli Muda BPBD Samarinda, Hamzah, memaparkan ada tiga bencana utama yang siap meneror Kota Tepian selama El Nino mengganas.
"Fenomena El Nino diperkirakan cukup kuat. Kondisi ini berpotensi membuat musim kemarau berlangsung lebih panjang dengan curah hujan yang lebih rendah dibandingkan kondisi normal," kata Hamzah.
Tiga ancaman krusial tersebut adalah , Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla): Luasnya vegetasi kering akibat suhu panas ekstrem berpotensi memicu ledakan titik api (hotspot).
Lalu kebakaran permukiman. Padatnya kawasan urban dan minimnya pasokan air saat kekeringan membuat risiko kebakaran rumah meningkat tajam.
Dan krisis air pertanian juga domestik, dimana berkurangnya debit air sungai mengancam ketahanan pangan di sektor pertanian/perkebunan serta pasokan air bersih harian.
BPBD Samarinda telah memetakan wilayah-wilayah yang paling rentan membara. Berdasarkan Kajian Risiko Bencana Kota Samarinda, tiga kecamatan ditetapkan dalam status kewaspadaan tertinggi (zona merah) karhutla: Kecamatan Samarinda Utara, Kecamatan Sambutan dan Kecamatan Palaran.
Sementara itu, untuk kawasan pusat kota seperti Samarinda Kota, meski risiko karhutla relatif kecil karena minimnya lahan terbuka, ancaman kebakaran permukiman justru menjadi momok menakutkan yang harus diwaspadai.
Pemerintah bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) kini memperketat pengawasan dan melarang keras tradisi membakar lahan. Praktik pembukaan lahan secara asal-asalan di tengah cuaca terik dinilai sebagai tindakan konyol yang dapat memicu bencana besar.
"Kami terus mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar. Saat El Nino menguat, cuaca akan lebih panas dan kering sehingga api lebih mudah menyebar," pungkasnya. (**)