Kualitas Udara Menurun, Langit Samarinda Mulai Diselimuti Asap
SAMARINDA. Cuaca di Samarinda sejak Sabtu (29/8/2026) mulai terlihat seperti mendung. Namun hal itu bukanlah sekumpulan awan yang menandakan akan turun hujan. Melainkan mulai pekatnya kabut asap di langit Kota Tepian.
Kondisinya semakin terlihat pada Minggu (30/8/2026). Kondisi udara yang biasanya terlihat terang, menjadi lebih redup dengan jarak pandang yang ikut menurun. Situasi tersebut terjadi di tengah maraknya kebakaran lahan di sejumlah wilayah Kalimantan Timur.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Samarinda mencatat kualitas udara di Kota Tepian mulai menurun.
Kepala BMKG Samarinda Riza Arian Noor mengatakan, berdasarkan pemantauan sekitar pukul 11.00 Wita, konsentrasi partikulat tercatat mencapai 37 mikrogram per meter kubik.
Angka tersebut masih berada dalam kategori sedang, tetapi sudah lebih tinggi dibandingkan kondisi normal yang berada pada kisaran 0 hingga 15 mikrogram per meter kubik.
"Untuk kualitas udara terakhir sekitar pukul 11.00 Wita, kita berada di angka 37 mikrogram per meter kubik atau kategori sedang," kata Riza, Minggu (30/8/2026).
Jika konsentrasi partikulat melewati angka 55 mikrogram per meter kubik, kondisi udara mulai masuk kategori tidak sehat.
Penurunan kualitas udara tersebut juga terlihat dari jarak pandang di Bandara APT Pranoto Samarinda. Sekitar pukul 12.00 Wita, jarak pandang di kawasan bandara terpantau sekitar 5 kilometer.
Menurut Riza, kondisi udara Samarinda dapat dipengaruhi asap kebakaran lahan dari wilayah sekitar. Asap tidak mengenal batas administrasi dan dapat terbawa mengikuti arah angin.
"Samarinda ini berada di tengah-tengah Kabupaten Kutai Kartanegara. Kalau ada asap, tidak ada batas wilayah. Ke mana angin berhembus, ke situ asap bisa terbawa," jelasnya.
Berdasarkan rekap pemantauan satelit pada 29 Agustus, terdapat sekitar 1.556 titik panas yang terdeteksi di wilayah Kalimantan Timur. Namun, angka tersebut tidak dapat langsung diartikan sebagai jumlah kebakaran.
Riza menegaskan, hotspot merupakan indikator awal dalam pemantauan dan belum tentu menunjukkan adanya kebakaran. Selain itu, kebakaran yang terjadi setelah satelit melintas juga berpotensi belum tertangkap dalam pemantauan.
"Titik panas itu belum tentu kebakaran. Data satelit merupakan gambaran umum untuk monitoring," terangnya.
Di tengah kondisi tersebut, masyarakat diminta mulai mengantisipasi dampak penurunan kualitas udara, terutama ketika beraktivitas di luar ruangan.
Sementara itu, BMKG mengimbau masyarakat Samarinda tetap menjaga kondisi kesehatan dengan mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila udara semakin memburuk. Penggunaan masker juga dianjurkan, khususnya bagi masyarakat yang sensitif terhadap perubahan kualitas udara.
Masyarakat juga diminta memperhatikan kondisi udara di lingkungan masing-masing, terutama jika jarak pandang mulai berkurang dan bau asap semakin terasa.
"Kami sarankan masyarakat menjaga kesehatan dengan menggunakan masker kalau keluar rumah, apalagi kalau sudah terlihat kabur dan tercium bau asap," tegas Riza.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kaltim dr Jaya Mialimin mengatakan, pemerintah telah melakukan sejumlah langkah antisipasi terhadap dampak kabut asap dan kebakaran lahan.
Menurutnya, sudah ada surat edaran serta rapat koordinasi dengan sejumlah pemerintah kabupaten dan kota. Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi wilayah yang terdampak kebakaran lahan.
"Sudah ada edaran, termasuk juga rapat koordinasi dengan beberapa kabupaten dan kota," kata Jaya.
Dinas Kesehatan Kaltim juga telah menyalurkan sejumlah logistik untuk daerah yang berpotensi terdampak. Bantuan tersebut di antaranya berupa masker.
Jaya menyebut sejumlah wilayah seperti Berau dan Paser telah dilaporkan memiliki titik api. Karena itu, kesiapsiagaan terus dilakukan, termasuk memastikan kebutuhan perlindungan masyarakat tersedia.
"Kita sudah kirim beberapa logistik, termasuk masker," ujarnya. (**)