Geger! Siswa SMK Dilaporkan Edit Foto Cewek Teman Sekelas Jadi Tanpa Busana
SAMARINDA. Entah apa maksud dari seorang siswa SMK di Samarinda ini. Sebab ia ternyata mengoleksi foto teman-teman siswi sekelasnya dengan editan tak senonoh. Bagaimana tidak, teman-temannya yang awalnya mengenakan seragam sekolah, diedit menjadi tanpa busana sama sekali dengan menggunakan aplikasi.
Kasus ini langsung menggemparkan sekolah bersangkutan. Kini pelaku sudah dilaporkan dan tak lagi mengeyam pendidikan karena sudah di drop out alias DO.
Terbongkarnya ulah jahat tersebut diungkapkan Ketua Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC-PPA) Kaltim, Rina Zainun. Menurut Rina, kasus ini berawal dari unggahan mantan pacar pelaku di media sosial yang mengisyaratkan adanya manipulasi foto siswi di sekolah tersebut.
"Dari unggahan itu seolah memberi peringatan agar foto adiknya tidak ikut diubah seperti foto teman-teman sekelas pelaku. Setelah dikonfirmasi langsung oleh para siswi yang namanya terseret, siswa itu akhirnya mengakui perbuatannya," ungkap Rina.
Tak main-main, saat ponsel terduga pelaku diperiksa para korban, jumlah foto yang telah diubah ternyata sangat banyak. Bahkan, hampir satu kelas siswi menjadi korban dari aksi pemalsuan foto berkonten pornografi tersebut.
Terkait motif, pihak TRC-PPA Kaltim belum dapat memastikan apakah foto-foto asusila rekayasa digital itu hanya disimpan untuk kepuasan pribadi (fetish) atau sudah disebarluaskan ke pihak lain.
Isu yang beredar menyebutkan pihak sekolah sempat berupaya menutupi kejadian ini. Namun, Rina mengaku belum bisa menyimpulkan hal tersebut karena belum berkoordinasi langsung dengan pihak sekolah. Yang pasti, terduga pelaku kini telah dikeluarkannya dari sekolah (drop out).
Kendati demikian, para korban merasa sanksi pengeluaran siswa tersebut belum memberikan rasa adil. Korban berencana membawa kasus ini ke jalur hukum.
"Setiap warga negara memiliki kedudukan yang sama di mata hukum. Jika korban merasa dirugikan dan ingin melapor, kami tidak melarang. Kami mengarahkan agar mereka melengkapi bukti-bukti dan saksi yang diperlukan," tegas Rina.
Dampak dari kejadian ini dinilai sangat memukul kondisi mental para korban. Banyak siswi yang merasa dipermalukan dan trauma berat akibat fotonya direkayasa menjadi tanpa busana.
Menanggapi hal itu, TRC-PPA Kaltim berfokus untuk memberikan pendampingan dan pemulihan trauma (trauma healing).
"Fokus utama kami saat ini adalah pemulihan psikis dan mental para korban. Kami akan bekerja sama dengan jasa psikolog profesional untuk menangani dampak trauma yang mereka alami," lanjutnya.
Rina juga mengingatkan masyarakat agar bijak dan berhati-hati dalam mengelola media digital. Tindakan menyimpan, memproduksi, hingga menyebarkan konten yang melanggar kesusilaan baik milik orang lain maupun diri sendiri dapat dijerat dengan Undang-Undang Pornografi. (**)