Universal Media
Pemerintah Kabupaten Berau
Hujan Tak Kunjung Datang, Air Asin Sudah “Jajah” Mahakam

Hujan Tak Kunjung Datang, Air Asin Sudah “Jajah” Mahakam

14 Aug 2026 | Pemerintahan

SAMARINDA. Tak turunnya hujan dalam beberapa pekan terakhir, mulai memperlihatkan dampaknya pada kondisi Sungai Mahakam. Debit air yang menurun, membuat air laut perlahan merangsek ke aliran sungai dan memunculkan ancaman intrusi yang dapat mengganggu kualitas air baku untuk kebutuhan air bersih warga.
Perumdam Tirta Kencana Samarinda kini meningkatkan pemantauan di sejumlah titik Sungai Mahakam. Dari hasil pengecekan terakhir, tanda-tanda intrusi air laut mulai terdeteksi di kawasan Pendingin. Bahkan, dalam satu hingga dua hari terakhir, informasi masuknya air laut juga telah terpantau di sekitar muara Sangasanga.
Manajer Produksi Perumdam Tirta Kencana, Agus Muamar mengatakan, kondisi tersebut menjadi perhatian karena intrusi air laut berpotensi bergerak semakin jauh ke arah hulu apabila hujan belum juga turun.
“Terakhir kami mengecek ke daerah Muara Sungai Mahakam, di posisi Pendingin itu sudah ada tanda-tanda masuk. Dalam sehari dua hari ini informasi terbaru sudah ada masuk di muara Sangasanga,” kata Agus, Jumat (14/8/2026).
Meski air laut mulai masuk ke aliran Sungai Mahakam, hingga kini belum berdampak langsung terhadap instalasi pengolahan air (IPA) milik Perumdam. Seluruh proses produksi masih berjalan.
Namun, kondisi tersebut tetap diantisipasi. Perumdam akan terus memantau perkembangan intrusi dalam beberapa hari hingga dua pekan ke depan, terutama jika curah hujan masih rendah.
“Untuk IPA pengolahan Perumdam, alhamdulillah saat ini belum terkena dampak intrusi. Cuma kita tetap waspada dalam beberapa hari ke depan sampai seminggu dua minggu depan kalau memang tidak ada curah hujan,” ujarnya.
Perumdam bahkan telah menyiapkan skenario penghentian produksi apabila kualitas air baku mulai terpengaruh. Salah satu parameter yang menjadi patokan adalah kadar klorida.
Jika kadar klorida mencapai angka 250, produksi pada IPA yang terdampak akan dihentikan sementara.
“Kalau intrusi air laut kadar kloridanya sudah mencapai 250, kemungkinan produksi akan stop dulu,” jelasnya.
Penghentian produksi tersebut tidak otomatis berlangsung selama 24 jam. Perumdam akan menyesuaikan dengan kondisi pasang surut Sungai Mahakam.
Agus menjelaskan, berdasarkan pengalaman sebelumnya, intrusi air laut cenderung lebih terasa ketika sungai dalam kondisi pasang. Ketika air kembali surut, kadar klorida biasanya ikut menurun.
“Biasanya kalau pengalaman kita intrusi air laut itu masuknya pada saat pasang sungai. Kemudian pas pasang itu kalau tingkat kadar kloridanya 250 akan kita stop. Namun pada saat sungai surut kadar kloridanya biasanya turun kembali,” katanya.
Apabila hasil pemantauan menunjukkan kadar klorida telah kembali di bawah ambang batas, produksi akan segera dijalankan kembali.
“Kita cek, kita pantau kalau sudah di bawah 250 produksi on kembali. Mudah-mudahan tidak sampai 24 jam stop mati total,” tambahnya.
Sejumlah instalasi pengolahan air juga menjadi perhatian apabila intrusi bergerak semakin jauh ke arah hulu. Dua titik yang dinilai berpotensi terdampak lebih awal yakni IPA Pulau Atas dan Palaran.
“Saat ini yang biasanya terdampak di awal itu kalau intrusi air laut di IPA pengolahan kami di Pulau Atas dan Palaran,” ungkap Agus.
Tak hanya ancaman intrusi air laut, musim kemarau juga mulai berdampak terhadap debit sumber air baku di sejumlah wilayah Samarinda. Kondisi ini terutama dirasakan pada IPA di kawasan Bengkuring dan Bumi Sempaja.
Sumber air baku di kawasan tersebut berasal dari anak-anak Sungai Mahakam yang terhubung dengan sistem Sungai Karang Mumus. Ketika sungai surut, debit air baku yang masuk ke instalasi ikut berkurang sehingga kapasitas produksi turut menurun.
“Kalau lagi posisi surut, debit air sungai berkurang, sudah mengalami penurunan produksi kita. Cuma kalau posisi sungai pasang, produksi alhamdulillah normal kembali,” tuturnya.
Kendati mengalami penurunan debit, kondisi tersebut belum sampai membuat distribusi air bersih terhenti total.
“Selama kemarin di situ kalau surut produksinya ada penurunan, cuma tidak sampai mati total. Alhamdulillah masih normal, cuma ada penurunan debit saja,” ucapnya.
Mengantisipasi kemungkinan gangguan pelayanan, Perumdam mengimbau masyarakat menyediakan tempat penampungan air di rumah.
Cadangan air dinilai penting karena gangguan distribusi tidak hanya dipicu kondisi sumber air baku, tetapi juga bisa terjadi akibat kebocoran pipa maupun pekerjaan perbaikan jaringan.
“Mengantisipasi kepada masyarakat, tetap adanya penampungan di rumah-rumah itu semestinya harus ada,” tuturnya.
Untuk saat ini, Perumdam memastikan pelayanan air bersih masih berjalan. Belum ada penghentian distribusi akibat kekeringan, meski penurunan debit produksi mulai terjadi di sejumlah wilayah.
“Kalau dampak dari kekeringan mati total itu belum. Alhamdulillah masih normal, cuma ada penurunan debit saja,” pungkasnya. (**)