Universal Media
Pemerintah Kabupaten Berau
Julukan 'Borneo FC Mart' Jadi Motivasi Borneo FC Lahirkan Pemain Hebat

Julukan 'Borneo FC Mart' Jadi Motivasi Borneo FC Lahirkan Pemain Hebat

07 Aug 2026 | Olahraga

SAMARINDA. Julukan "Borneo Mart" ramai beredar di media sosial setelah Borneo FC melepas sejumlah pemain penting pada bursa transfer. Setelah sebelumnya menjual Matheus Pato, klub berjuluk Pesut Etam itu juga berpisah dengan Mariano Peralta dan Nadeo Argawinata.
Di kalangan suporter, julukan tersebut muncul sebagai sindiran bahwa Borneo FC lebih sering melepas pemain bintang daripada mempertahankannya.
Manajemen Borneo FC tidak menampik munculnya stigma tersebut. Klub justru memandangnya sebagai pengakuan bahwa Borneo FC telah menjadi salah satu klub yang diperhitungkan dalam industri sepak bola Indonesia, terutama dalam membangun dan mengembangkan nilai pemain.
Manajer Borneo FC, Dandri Dauri, mengaku bangga dengan predikat yang kini melekat pada klubnya. Ia menilai sepak bola tidak hanya soal sebelas pemain di atas lapangan, tetapi juga menyangkut pengelolaan bisnis yang sehat.
"Alhamdulillah kalau ada predikat seperti itu. Kami cukup bangga. Di dunia sepak bola itu saya mengenalnya begini, dari bola untuk bola. Kalau kita tidak bicara tentang 11 pemain, sepak bola itu mengajarkan kita bisnis," katanya.
Dandri menyebut, kebijakan yang dijalankan Presiden Klub Nabil Husein bersama manajemen telah membawa Borneo FC pada pola pengelolaan yang sebelumnya tidak banyak dipikirkan klub-klub di Indonesia.
Ia mencontohkan perpindahan Matheus Pato beberapa musim lalu, disusul hengkangnya Mariano Peralta dan Nadeo Argawinata pada musim ini. Pergantian pemain memang memunculkan kekecewaan di kalangan suporter, tetapi ia menilai hal tersebut merupakan bagian dari dinamika industri sepak bola profesional.
"Dulu Pato, kemudian ada Peralta, disusul Nadeo. Itulah dinamika. Memang meninggalkan kekecewaan di hati kawan-kawan penonton atau suporter, tetapi kalau kita maknai sepak bola itu sebagai industri, maka saya pastikan Borneo sudah di jalurnya hari ini," tegasnya.
Dandri mengungkapkan ambisi jangka panjang Borneo FC bukan sekadar menjual pemain. Klub ingin membangun sistem pembinaan yang mampu terus melahirkan talenta baru sehingga menjadi pemasok pemain berkualitas bagi sepak bola nasional.
Ia bahkan berharap julukan "Borneo Mart" suatu saat memiliki makna yang lebih besar, yakni sebagai "gudang" pemain hasil pembinaan sendiri.
"Mudah-mudahan yang dimaksud Mart itu bisa punya gudang di kemudian hari. Baik dari pembinaan usia muda sampai yang siap diekspor ke senior. Mudah-mudahan kita punya gudang Mart Borneo Center," bebernya.
Dandri menilai, keberhasilan sebuah klub tidak hanya diukur dari prestasi di lapangan, tetapi juga dari kemampuannya membangun ekosistem pembinaan dan menghasilkan pemain yang diminati klub lain. Ia membayangkan setelah kompetisi berakhir, para manajer klub peserta Liga 1 menjadikan Borneo FC sebagai tujuan utama untuk mencari pemain.
"Siapa pun di 17 tim, habis kompetisi yang dihubungi manajer-manajer Borneo. Ada pemainkah di situ? Nah, itu kan bicaranya seperti itu kalau kita bisnis," katanya.
Ia pun mengajak suporter melihat perpindahan pemain sebagai bagian dari proses membangun klub yang berkelanjutan, bukan semata kehilangan sosok di lapangan.
"Mari itu didukung, jangan menjadikan kekecewaan. Peralta boleh pergi, Nadio boleh pergi, tetapi akan lahir Peralta baru dan Nadio-Nadio baru," pungkasnya. (**)