Kursi Presiden FIFA Terancam Gianni Infantino Terancam, Empat Nama Jadi Solusi
NYON. Masa depan Gianni Infantino sebagai Presiden FIFA mulai menjadi sorotan, setelah gelombang kritik terhadap kepemimpinannya terus menguat.
Polemik muncul usai beredarnya rencana FIFA untuk membuka peluang penjualan sebagian hak komersial Piala Dunia kepada investor swasta. Kebijakan tersebut memicu penolakan dari berbagai pihak, termasuk konfederasi sepak bola Eropa (UEFA).
Situasi ini membuat posisi Infantino tidak lagi sepenuhnya aman. Meski belum ada keputusan resmi terkait masa jabatannya, banyak pihak mulai membicarakan sosok yang berpotensi menggantikannya apabila pemilihan Presiden FIFA 2027 berlangsung kompetitif.
Infantino sendiri menjabat sebagai Presiden FIFA sejak 2016, setelah menggantikan Sepp Blatter yang tersandung skandal korupsi.
Dalam dua pemilihan terakhir, yakni pada 2019 dan 2023, pria asal Swiss tersebut terpilih tanpa memiliki pesaing.
Namun, kondisi kini berbeda. Kritik terhadap sejumlah kebijakan FIFA membuat peluang munculnya kandidat baru semakin terbuka.
Salah satu nama yang paling sering disebut adalah Presiden UEFA, Aleksander Ceferin. Pria asal Slovenia itu dikenal memiliki hubungan yang kurang harmonis dengan FIFA dalam beberapa tahun terakhir.
Ia beberapa kali mengkritik kebijakan federasi sepak bola dunia tersebut, termasuk soal kalender kompetisi hingga pengelolaan turnamen internasional.
Ceferin juga menjadi salah satu tokoh yang menentang rencana penjualan sebagian hak komersial Piala Dunia. Bahkan, ia dikabarkan tidak menghadiri final Piala Dunia 2026 sebagai bentuk ketidaksepakatan terhadap arah kebijakan FIFA.
Meski demikian, sejumlah laporan menyebut Ceferin sebenarnya masih nyaman memimpin UEFA hingga masa jabatannya berakhir pada 2031. Ia disebut baru akan mempertimbangkan maju apabila memang dibutuhkan untuk membawa perubahan di tubuh FIFA.
Selain Ceferin, nama Presiden Paris Saint-Germain, Nasser Al-Khelaifi, juga masuk dalam daftar kandidat potensial.
Al-Khelaifi merupakan salah satu figur paling berpengaruh di sepak bola Eropa. Selain memimpin PSG, ia juga memiliki peran penting dalam organisasi klub-klub Eropa. Pengalamannya di dunia bisnis dan sepak bola membuat namanya dianggap layak menjadi calon Presiden FIFA.
Meski demikian, pihak Al-Khelaifi telah membantah kabar tersebut. Perwakilannya menegaskan bahwa pria asal Qatar itu tidak memiliki ambisi untuk mencalonkan diri sebagai Presiden FIFA dan akan tetap fokus menjalankan tugasnya saat ini.
Nama berikutnya adalah Arsene Wenger. Legenda Arsenal tersebut kini menjabat sebagai Kepala Pengembangan Sepak Bola Global FIFA.
Sejak bergabung dengan FIFA, Wenger aktif mengusulkan berbagai inovasi untuk perkembangan sepak bola, mulai dari pembinaan usia muda hingga perubahan sejumlah aturan permainan.
Di luar Eropa, Presiden CONCACAF Victor Montagliani juga dianggap memiliki peluang. Pria asal Kanada tersebut telah lama disebut-sebut memiliki ketertarikan memimpin FIFA.
Ia memiliki pengalaman memimpin konfederasi sepak bola Amerika Utara, Amerika Tengah, dan Karibia, serta dikenal memiliki hubungan yang baik dengan banyak federasi anggota FIFA.
Meski saat ini masih fokus menghadapi pemilihan Presiden CONCACAF, peluang Montagliani untuk ikut bertarung dalam pemilihan Presiden FIFA tetap terbuka.
Satu nama lainnya adalah Presiden Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), Salman bin Ibrahim Al Khalifa.
Tokoh asal Bahrain itu merupakan Wakil Presiden Senior Dewan FIFA dan termasuk figur berpengaruh dalam organisasi sepak bola dunia. AFC juga menjadi salah satu konfederasi yang menyampaikan keberatan terhadap rencana komersialisasi Piala Dunia sehingga nama Salman mulai diperhitungkan sebagai alternatif pemimpin FIFA di masa mendatang.
Di tengah derasnya kritik, Infantino masih tetap memegang kendali organisasi. Namun tekanan terus bertambah setelah penasihat senior FIFA, Carlos Cordeiro, memilih mengundurkan diri sebagai bentuk protes terhadap polemik yang terjadi.
Apabila situasi ini terus berkembang hingga Kongres FIFA 2027, persaingan menuju kursi Presiden FIFA diperkirakan akan menjadi salah satu pemilihan paling menarik dalam sejarah sepak bola dunia.
Sejumlah tokoh berpengaruh dari Eropa, Asia hingga Amerika Utara berpeluang meramaikan bursa calon pemimpin baru organisasi sepak bola terbesar di dunia tersebut. (**)