Universal Media
Pemerintah Kabupaten Berau
Ribuan Siwa Gelar Salat Berjamaah Minta Hujan Basahi Kota Samarinda

Ribuan Siwa Gelar Salat Berjamaah Minta Hujan Basahi Kota Samarinda

24 Aug 2026 | Peristiwa

SAMARINDA. Panjangnya musim kemarau di Samarinda saat ini menimbulkan kekhawatiran. Sebab dampaknya terasa sangat luas. Selain cuaca yang sangat panas dan keringnya sumber air, kebakaran hutan, lahan serta pemukiman menjadi ancaman lainnya.
Menghadapi situasi tersebut, Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 3 Samarinda Seberang menggelar salat Istisqa yang melibatkan sekitar 1.000 jemaah, terdiri dari siswa, guru, serta tenaga kependidikan.
Pelaksanaan ibadah ini bukan sekadar ritual memohon hujan, melainkan sebuah aksi refleksi dan koreksi diri atas krisis ekologis yang melanda kawasan Ibu Kota Kaltim.
Pimpinan Cabang Muhammadiyah Samarinda Seberang, Rustam Baraqnoor, menegaskan kemarau panjang ini harus menjadi momen introspeksi massal bagi seluruh elemen masyarakat.
"Sebenarnya bagi kita semua, musibah kemarau yang panjang ini jadi pengingat bagi kita untuk introspeksi. Ada yang mungkin kita keliru dalam hal ini," tegas Rustam.
Menurutnya, fenomena tanpa hujan di Samarinda telah sah mengkategorikan wilayah ini masuk dalam kondisi kemarau krisis yang membutuhkan tindakan spiritual dan kepedulian bersama secara nyata.
Hal senada disampaikan Kepala SD Muhammadiyah 3 Samarinda, Ansar. Ia menyebutkan hadirnya 600 siswa, 200 siswa SMP, serta 200 guru dan tenaga kependidikan dalam salat Istisqa ini adalah bentuk pendidikan karakter sejak dini agar senantiasa bergantung pada pencipta saat menghadapi krisis.
"Diharapkan Allah SWT menurunkan keberkahan, agar sumber air dan debit air Sungai Mahakam ini bisa naik sehingga tidak terjadi kemarau panjang yang membahayakan kehidupan," ujar Ansar.
Pesan kritis disampaikan Ustadz Muhammad Ghufron saat menyampaikan khutbahnya. Ia menggarisbawahi bahwa krisis iklim dan kekeringan yang terjadi saat ini, tak lepas dari dosa serta kelalaian manusia dalam menjaga keseimbangan alam.
Merujuk pada Surah Fatir ayat 15, Ghufron mengingatkan hakikat manusia yang sejatinya fakir dan sangat butuh pada Allah SWT. Ia juga mengutip Surah Ar-Rum ayat 41 untuk menegaskan penyebab utama dari kerusakan lingkungan hidup.
"Bahwasanya perubahan iklim yang terjadi dan dampak yang merata pada kita semua penghuni alam semesta ini adalah akibat ulah tangan manusia. Zaharal-fasaadu fil-barri wal-bahri bima kasabat aydin-naasi.Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia," tegas Ghufron.
Ia menambahkan bahwa bencana lingkungan yang dirasakan masyarakat saat ini merupakan bentuk peringatan agar manusia sadar dan segera memperbaiki perilakunya terhadap alam. Lewat momentum ini, jemaah diajak untuk tidak hanya menengadahkan tangan memohon hujan, tetapi juga menghentikan berbagai tindakan destruktif yang memicu kerusakan lingkungan di Kaltim. (**)