Universal Media
Pemerintah Kabupaten Berau
Samarinda Diselimuti Asap, Musim Kemarau Masuk di Masa Puncak

Samarinda Diselimuti Asap, Musim Kemarau Masuk di Masa Puncak

19 Aug 2026 | Peristiwa

SAMARINDA. Musim kemarau mulai menunjukkan puncaknya di Kota Tepian. Dalam beberapa hari terakhir, hujan nyaris tidak turun di sejumlah wilayah Samarinda. Kondisi tersebut membuat suhu udara terasa lebih menyengat, dengan temperatur maksimum mendekati 35 derajat Celsius.
Kepala BMKG Kota Samarinda Reza Arfian Noor , mengatakan kondisi tersebut sesuai dengan prediksi BMKG yang memperkirakan puncak musim kemarau terjadi pada Agustus.
“Memang kita sekarang, khususnya di Kota Samarinda, berada di musim kemarau. Prediksi kita puncak kemarau terjadi sekitar Agustus dan memang kondisi tersebut benar-benar terjadi,” ujar Reza, Rabu (19/8/2026).
Menurutnya, kondisi panas dan minim hujan diperkirakan masih dapat berlangsung hingga periode akhir musim kemarau. Cuaca kering tersebut juga perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan potensi kebakaran lahan.
“Sudah hampir tiga sampai empat hari ini hujan hampir tidak terjadi. Suhu udara juga cukup panas, dengan suhu maksimum bisa mencapai hampir 35 derajat Celsius,” jelasnya.
Tak hanya persoalan suhu, kondisi atmosfer pada musim kemarau juga mulai memengaruhi jarak pandang. Berdasarkan pengamatan BMKG di Bandara APT Pranoto Samarinda, jarak pandang pada pagi hari terkadang mengalami penurunan akibat kabut.
Dalam beberapa pekan terakhir, visibilitas pada sekitar pukul 06.00 hingga 07.00 Wita bahkan dapat berada di bawah 1.000 meter. Namun, kondisi tersebut berangsur membaik setelah matahari mulai meninggi.
“Di atas jam 09.00 sampai 10.00, kondisi visibility sudah mulai membaik. Jadi secara operasional di Bandara APT Pranoto, kondisi biasanya hanya kurang baik pada pagi hari,” terangnya.
Reza menegaskan, kabut yang muncul pada pagi hari merupakan fenomena yang cukup sering terjadi ketika musim kemarau. Namun, kondisi tersebut dapat semakin buruk apabila bercampur dengan asap akibat kebakaran lahan di sekitar wilayah Samarinda.
“Kalau dipicu dengan adanya pembakaran di sekitarnya, tentunya terjadi percampuran kabut dan asap yang juga akan mengurangi jarak pandang,” katanya.
Sementara untuk kawasan perkotaan Samarinda, jarak pandang kendaraan masih relatif aman. Hasil pengamatan BMKG menunjukkan visibilitas masih berada di atas 6.000 meter.
Meski demikian, masyarakat diminta tidak lengah. Sebab, meningkatnya aktivitas pembakaran lahan di wilayah sekitar Samarinda dapat membuat asap terbawa angin hingga masuk ke kawasan perkotaan.
Reza menyebut, kawasan terbuka di pinggiran Samarinda, khususnya wilayah utara yang berbatasan dengan Kutai Kartanegara, menjadi salah satu area yang perlu diwaspadai.
“Dampak asap ini tidak melihat batas wilayah. Kalau terjadi pembakaran di daerah sekitar, asap bisa terbawa angin dan tentunya berpengaruh terhadap Kota Samarinda,” tegasnya.
Menghadapi kondisi tersebut, BMKG mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan secara terbuka. Sebab, kondisi kering dan angin yang cenderung lebih kencang membuat api lebih mudah membesar serta sulit dikendalikan.
Selain ancaman kebakaran, puncak kemarau juga berpotensi memicu kekeringan. Penurunan muka air Sungai Mahakam menjadi salah satu tanda yang perlu diperhatikan masyarakat.
“Dampak dari puncak musim kemarau adalah kekeringan. Ini juga sudah terlihat dari penurunan muka air Sungai Mahakam. Artinya, kita harus mempersiapkan diri dengan menghadapi puncak musim kemarau, salah satunya dengan berhemat air,” ungkapnya.
Di sisi lain, masyarakat juga diminta mewaspadai dampak asap terhadap kesehatan. Apabila kualitas udara mulai terganggu, jarak pandang menurun, atau bau asap mulai terasa kuat, penggunaan masker dianjurkan untuk mengurangi paparan asap.
“Kalau kondisi asap mulai meningkat, visibility cukup rendah dan baunya sudah tercium atau terasa, tentunya sudah saatnya kita menggunakan masker untuk menjaga kesehatan,” pungkas Reza. (**)