Tak Kunjung Hujan, Pertanian di Serayu Terancam Gagal Panen
SAMARINDA. Dampak musim kemarau di Samarinda sangat terasa. Selain cuaca yang panas, ancaman kebakaran juga terus mengintai. Sementara di sektor pertanian, puluhan hektare lahan petani terancam gagal panen.
Kondisi gagal panen tersebut terlihat di kawasan Serayu, Tanah Merah, Samarinda Utara. Tanah di sejumlah bagian lahan bahkan mulai mengering dan retak-retak, sementara tanaman yang telah ditanam masih membutuhkan pasokan air.
Sekitar 50 hektare lahan pertanian yang dikelola tiga kelompok tani kini berada dalam kondisi rawan. Jika hujan tak kunjung turun dalam beberapa pekan ke depan, tanaman dikhawatirkan mengalami puso dan gagal menghasilkan panen.
Kondisi tanah yang kering dan retak-retak menjadi gambaran nyata minimnya pasokan air di kawasan tersebut. Petani pun mulai waswas melihat perkembangan tanaman yang sangat bergantung pada hujan.
Ketua Kelompok Tani Margo Utomo, Didik mengatakan, hamparan pertanian di wilayah Serayu, Tanah Merah, cukup luas dan saat ini telah ditanami.
"Ini yang di wilayah Serayu, Tanah Merah. Hamparan di sini agak luas. Ada tiga kelompok tani, kurang lebih 50 hektare sudah ditanam," kata Didik, Rabu (19/8/2026).
Menurutnya, kondisi lahan yang semakin kering membuat petani mulai menghitung risiko terburuk. Apabila hujan belum juga turun dalam satu bulan ke depan, kemungkinan gagal panen semakin besar.
"Kalau satu bulan ke depan belum ada hujan, mungkin bisa gagal panen," ujarnya.
Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Tanah pertanian yang mulai kehilangan kelembapan terlihat kering hingga mengalami retakan. Kondisi ini membuat kebutuhan air untuk mempertahankan tanaman semakin mendesak.
Kepala BPBD Kota Samarinda Suwarso mengatakan, kawasan Serayu menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian pemerintah dalam mitigasi dampak kemarau.
Berdasarkan data sementara yang diterima BPBD, sekitar 50 hektare lahan pertanian di kawasan tersebut berpotensi terdampak apabila tidak segera mendapat tambahan pasokan air.
"Kalau dalam satu pekan ke depan tidak dapat hujan atau dengan sistem rekayasa penyiraman yang lain, mereka agak parah," ujar Suwarso.
Menurutnya, persoalan kemarau dapat berdampak sejak tahap awal hingga akhir musim tanam. Keterbatasan air dapat menyebabkan petani gagal menanam maupun gagal memanen tanaman yang sudah tumbuh.
"Gagal tanam itu sudah tidak ada air atau air terbatas sehingga tidak bisa menanam. Kalau gagal panen, sudah menanam tetapi kekurangan sumber air sehingga terjadi puso," jelasnya.
Pemkot Samarinda kini melakukan pemetaan terhadap lahan pertanian dan perkebunan yang berpotensi terdampak. Tidak hanya tanaman padi, sejumlah komoditas hortikultura seperti sayuran dan cabai juga menjadi perhatian.
Data dari masing-masing perangkat daerah akan dihimpun untuk menentukan lokasi yang membutuhkan intervensi serta jenis bantuan yang diperlukan.
Suwarso mengatakan, pemerintah akan mengoptimalkan sumber daya yang tersedia untuk membantu menghadapi dampak kemarau. Peralatan milik organisasi perangkat daerah maupun sumber daya dari pihak swasta berpeluang dikerahkan.
"Konsepnya kolaborasi, kita gerakkan semuanya," tegasnya.
Namun, upaya tersebut tetap akan disesuaikan dengan kondisi di lapangan dan prinsip efisiensi anggaran.
Hasil pemetaan nantinya akan dilaporkan kepada Wali Kota Samarinda sebagai bahan menentukan langkah penanganan. Pemerintah diharapkan dapat bergerak sebelum kondisi lahan semakin parah.
Bagi petani di Serayu, hujan menjadi harapan utama untuk menjaga tanaman yang sudah ditanam tetap bertahan. Sebab, jika kemarau terus berlanjut, tanah yang kini mulai retak dikhawatirkan semakin kering dan membuat puluhan hektare lahan kehilangan peluang untuk dipanen.
Dengan luas hamparan sekitar 50 hektare dan melibatkan tiga kelompok tani, ancaman gagal panen tersebut berpotensi berdampak terhadap puluhan keluarga yang menggantungkan penghasilan dari sektor pertanian. (**)