Berau Ethno Carnival 2026, Dorong Pariwisata Berbasis Budaya dan Ekonomi Kreatif
TANJUNG REDEB. Sebanyak 42 peserta meramaikan Berau Ethno Carnival (BEC) 2026, yang digelar dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-73 Kabupaten Berau dan ke-216 Kota Tanjung Redeb. Acara BEC 2026 ini berlangsung meriah pada Sabtu (26/9/2026).
Parade busana kontemporer ini, menjadi salah satu upaya memperkenalkan kekayaan budaya sekaligus memperkuat daya tarik pariwisata Bumi Batiwakkal.
Wakil Bupati Berau, Gamalis, menilai keberagaman suku dan budaya yang dimiliki Berau merupakan potensi besar yang perlu terus dijaga dan diperkenalkan kepada masyarakat luas.
Ia menyebut, Berau memiliki tiga suku asli, yakni Dayak, Banua dan Bajau, serta dihuni berbagai suku lain dari seluruh Indonesia. Keberagaman tersebut menjadi bagian dari kekayaan budaya daerah.
Menurutnya, kolaborasi antarsuku selama ini turut menjaga kerukunan dan keharmonisan masyarakat Berau.
Gamalis juga mengapresiasi penyelenggaraan BEC 2026 yang tetap dapat terlaksana di tengah berbagai tantangan yang sedang dihadapi daerah.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi ruang kebersamaan, sekaligus meningkatkan semangat masyarakat dalam menjaga dan melestarikan kebudayaan.
“Alhamdulillah, hari ini kita diberikan kesempatan untuk berkumpul sejenak, tersenyum sejenak, menikmati kebersamaan dan menghadirkan suasana semangat dari para peserta,” tuturnya.
BEC 2026 secara resmi dibuka Gamalis. Seluruh peserta akan dinilai dewan juri berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan, dengan penghargaan diberikan kepada penampil terbaik.
Sementara itu Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Berau, Yudha Budisantosa, mengatakan BEC tidak sekadar menjadi ajang pertunjukan busana, tetapi juga wadah kreativitas untuk mengemas sejarah, seni, dan tradisi lokal maupun nusantara dalam tampilan yang lebih modern.
Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya membangun citra Berau sebagai daerah tujuan wisata yang memiliki kekayaan budaya dan potensi ekonomi kreatif.
“Kita ingin menumbuhkan branding Berau sebagai kota berbasis pariwisata, budaya, dan ekonomi kreatif di masa depan,” ujarnya.
Yudha menjelaskan, pengembangan pariwisata berbasis budaya diharapkan mampu menjadi salah satu langkah transformasi ekonomi daerah yang selama ini masih bergantung pada sektor ekstraktif.
Ia mencontohkan sejumlah daerah seperti Banyuwangi, Jember, Malang, hingga Bali yang mengembangkan pariwisata dengan dukungan atraksi budaya dan ekonomi kreatif.
“Dengan atraksi budaya, wisatawan akan lebih lama tinggal dan dengan ekonomi kreatif wisatawan akan lebih banyak membelanjakan uangnya,” jelasnya.
Pada penyelenggaraan tahun ini, sebanyak 42 peserta berasal dari kategori SLTA, organisasi perangkat daerah (OPD), BUMD, serta organisasi paguyuban. Setiap kelompok terdiri atas 20 hingga 30 orang.
Para peserta menempuh rute dari halaman Kantor Bupati Berau menuju Jalan APT Pranoto, Jalan S.M. Aminuddin, Jalan Pemuda, Jalan Mangga I, dan berakhir di Lapangan Pemuda, Tanjung Redeb. (adv/cha)