Krisis Air Bersih di Muang Dalam, Warga Berebut Bantuan
SAMARINDA. Tak turunnya hujan di Samarinda secara merata membuat beberapa wilayah mengalami kekeringan hebat. Salah satunya di kawasan Muang Dalam, Kelurahan Lempake, Kecamatan Samarinda Utara.
Sudah lebih dari tiga bulan warga di sana kesulitan mendapakan air bersih. Itulah sebabnya warga berebut dan mengantre saat bantuan air bersih tiba di wilayah mereka, Rabu (28/10/2026). Warga berbondong-bondong membawa galon dan jeriken untuk menampung air yang dibagikan.
Mereka bergantian mengisi wadah mereka demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bantuan tersebut menjadi angin segar setelah selama berbulan-bulan mereka harus berjuang mencari sumber air yang masih bisa dimanfaatkan.
Sebelumnya, warga terpaksa menggali bagian bekas aliran sungai untuk dijadikan sumur-sumur kecil. Air dari galian tersebut digunakan untuk mandi dan mencuci, meski jumlahnya terbatas dan terkadang tidak mencukupi. Sementara untuk kebutuhan minum dan memasak, mereka harus membeli air dari tandon yang bersumber dari mata air.
Suyanto (39), warga Muang Dalam mengatakan, kesulitan air bersih telah berlangsung sekitar tiga bulan setengah. Kondisi itu semakin terasa setelah debit air menurun akibat kemarau panjang yang juga menyebabkan Bendungan Benanga mengalami kekeringan.
“Kalau untuk air minum, kami beli. Untuk memasak juga beli air dari tandon. Kalau mandi, kami menggali bekas aliran sungai untuk dijadikan sumur kecil,” ujarnya, Rabu (28/10/2026).
Menurutnya, air yang terkumpul dari galian sungai hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan terbatas. Bahkan, persediaan tersebut terkadang tidak mencukupi untuk keperluan sehari-hari. Kondisi ini turut berdampak pada warga yang memiliki hewan ternak karena ketersediaan air semakin terbatas.
“Bukan agak susah lagi, Mas, tetapi susah banget. Untuk ternak juga sangat kekurangan air,” ungkapnya.
Kesulitan warga semakin bertambah lantaran jaringan Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) belum menjangkau permukiman mereka. Ketika sumber air di sekitar tempat tinggal mulai mengering, warga tidak memiliki banyak pilihan selain membeli air atau mencari sisa air di bekas aliran sungai.
Kondisi serupa dirasakan Saidah (38). Ia menyebut, kesulitan air mulai dirasakan sejak pertengahan Agustus. Sumur-sumur warga yang biasanya menjadi sumber air alternatif pun mulai mengering, sehingga mereka semakin kesulitan memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Menurut Saidah, bantuan air bersih yang diterima warga tidak memiliki jadwal penyaluran tetap. Warga terkadang harus menunggu tiga hari hingga satu minggu untuk kembali mendapatkan bantuan, bergantung pada kondisi dan kebutuhan di lapangan.
Keringnya Bendungan Benanga diduga turut berkaitan dengan terganggunya pasokan air Perumdam ke kawasan tersebut. Akibatnya, warga harus bertahan dengan sumber air seadanya di tengah kemarau yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir.
Warga berharap pemerintah terus menyalurkan bantuan air bersih selama kondisi belum membaik. Selain itu, mereka meminta agar jaringan Perumdam segera menjangkau Muang Dalam sehingga kebutuhan air bersih tidak lagi menjadi persoalan berkepanjangan setiap musim kemarau.
“Harapannya, kalau airnya habis, kami bisa dibantu lagi. Kalau bisa, air PDAM juga segera masuk ke sini, supaya kami tidak kesulitan air terus,” harap Saidah. (**)