Jelang Akhir Oktober, Karhutla Menurun, Asap Kiriman Belum Berakhir
SAMARINDA. Beberapa wilayah di Kaltim saat ini mengalami perubahan cuaca. Menurunnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla), menjadi salah satu penyebab membaiknya cuaca tersebut.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim mencatat tren karhutla di sejumlah wilayah mengalami penurunan signifikan menjelang akhir Oktober 2026. Meski demikian, ancaman belum sepenuhnya surut seiring munculnya persoalan baru berupa kabut asap pekat akibat tumpukan polusi lintas wilayah.
Kepala BPBD Kaltim, Buyung Dodi Gunawan, mengungkapkan bahwa penurunan intensitas karhutla paling terasa di Kabupaten Berau dan Kutai Barat. Kondisi ini dipicu oleh mulai turunnya intensitas hujan di beberapa titik wilayah tersebut.
"Di pengujung tahun, prediksi memasuki musim hujan juga mulai terlihat," ujar Buyung, Kamis (29/10/2026).
Kendati demikian, BPBD mencatat tren karhutla justru masih menunjukkan peningkatan di beberapa daerah lain, khususnya Kota Samarinda, Penajam Paser Utara (PPU), dan Paser. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), wilayah Paser tercatat sebagai daerah yang paling terlambat memasuki musim hujan.
"Bukan berarti karhutla sudah selesai. Namun, efek yang dirasakan sekarang adalah kabut asap akibat karhutla, termasuk di wilayah sekitar yang terdampak," tegasnya.
Buyung membeberkan, kabut asap yang menyelimuti wilayah Kaltim saat ini bukan semata-mata hasil kebakaran lokal. Fenomena tersebut merupakan akumulasi partikel asap dari Agustus hingga September yang sempat tertampung di lapisan atmosfer.
Asap pekat tersebut turut disumbang dari luar batas wilayah administrasi Kaltim, yakni dari Kalimantan Tengah (Kalteng) dan Kalimantan Barat (Kalbar).
"Asap tersebut berkumpul di atas. Sehingga, sinar matahari tidak bisa menembus dan kabut asap turun. Itu yang menyebabkan kondisi kabut asap seperti sekarang," jelasnya.
Berdasarkan pantauan titik panas (hotspot) dan kejadian kebakaran oleh BPBD dalam tiga hari terakhir, sebaran titik api tercatat di sejumlah kabupaten/kota: Bontang: 1 titik, Kutai Barat: 1 titik, Kutai Kartanegara (Kukar): 4 titik, Kutai Timur (Kutim): 1 titik, Mahakam Ulu (Mahulu): 0 titik danPaser: 3 titik.
Sementara itu, dari sisi luasan lahan, musibah karhutla menunjukkan tren penurunan dari puncak musim kemarau lalu. Pada Oktober ini, total lahan yang terbakar tercatat seluas 2.200 hektare. Angka ini jauh menurun dibandingkan bulan Agustus yang mencapai 3.500 hektare dan September yang menjadi puncak tertinggi seluas 3.800 hektare.
"Puncaknya terjadi pada September. Relatif menurun ya. Jadi, selain melakukan penindakan terhadap kebakaran yang ada di beberapa wilayah, sekarang kami juga berupaya mencegah dampak asap yang mengganggu masyarakat saat beraktivitas di luar ruangan," pungkas Buyung.
Pemerintah daerah bersama instansi terkait kini fokus mengantisipasi dampak lanjutan, terutama menjaga kesehatan masyarakat dari paparan kabut asap tebal yang membatasi jarak pandang dan aktivitas luar ruang. (**)