Universal Media
Dampak OMC, Beberapa Wilayah di Samarinda Diguyur Hujan

Dampak OMC, Beberapa Wilayah di Samarinda Diguyur Hujan

25 Sep 2026 | Peristiwa

SAMARINDA. Warga Samarinda di beberapa wilayah merasakan kegembiraan, Jumat (25/9/2026). Ini setelah hujan terjadi terutama di wilayah Samarinda Kota dan Samarinda Utara.
Forecaster Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Samarinda, Fiona Alya Hanifah mengatakan, hujan yang terjadi sekitar pukul 13.10 Wita memiliki intensitas rendah hingga menengah. Kemunculan hujan di tengah kondisi musim kemarau menjadi perhatian, terlebih Kaltim saat ini berada dalam pengaruh fenomena El Nino yang berpotensi membuat musim kemarau berlangsung lebih panjang dan kering dibandingkan kondisi normal.
Namun, Fiona menjelaskan, musim kemarau dalam definisi BMKG bukan berarti suatu wilayah sama sekali tidak mengalami hujan. Menurutnya, musim kemarau ditandai dengan curah hujan yang lebih rendah dibandingkan musim hujan. Secara teknis, BMKG mendefinisikan kondisi tersebut ketika curah hujan berada di bawah 150 milimeter dalam sebulan.
“Definisi musim kemarau di BMKG itu bukan berarti tidak ada hujan, tapi curah hujannya lebih rendah dibandingkan kondisinya pada musim hujan,” jelasnya.
Fiona mengatakan, pengaruh El Nino membuat kondisi kemarau tahun ini cenderung lebih panjang dan kering. Kondisi tersebut turut berdampak terhadap rendahnya curah hujan di Samarinda.
Pada Agustus lalu, misalnya, hujan di Samarinda terpantau sangat minim. Padahal, dalam kondisi normal masih terdapat potensi hujan pada periode tersebut.
“Dengan adanya El Nino, dampak musim kemaraunya ini lebih panjang dan lebih kering dari normalnya. Curah hujan untuk bulan September dan awal Agustus kemarin terpantau benar-benar tidak terjadi hujan di Samarinda,” katanya.
Meski hujan kembali turun pada Jumat, BMKG belum dapat menyimpulkan bahwa kondisi tersebut menandakan Samarinda telah memasuki musim peralihan atau pancaroba.
Fiona menjelaskan, hujan yang terjadi kali ini kemungkinan berkaitan dengan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang tengah dilakukan di wilayah Kaltim.
“Untuk saat ini belum bisa dipastikan sebagai peralihan musim karena kemungkinan hujan yang terjadi pada hari ini itu hasil dari OMC,” ungkapnya.
OMC tersebut dilakukan melalui penyemaian awan. Kegiatan penyemaian disebut telah berlangsung sejak 15 September 2026 di sekitar Bandara APT Pranoto dan wilayah Kutai Kartanegara (Kukar).
Menurut Fiona, penyemaian awan menjadi salah satu faktor yang memungkinkan potensi awan hujan di sekitar Samarinda berkembang menjadi hujan.
“Di Samarinda sebenarnya ada saja potensi awannya, namun untuk menjadi hujan itu dibutuhkan disemai dulu dengan bantuan OMC sehingga terjadi hujan,” jelasnya.
Dengan demikian, hujan yang mengguyur sejumlah wilayah Samarinda kali ini belum dapat dijadikan indikator bahwa musim kemarau telah berakhir atau memasuki musim peralihan. BMKG masih memantau perkembangan kondisi atmosfer dan pola curah hujan untuk menentukan perubahan musim secara lebih akurat. (**)