Universal Media
Fasilitas Hiperbarik Puskesmas Tanjung Batu Tak Bisa Digunakan

Fasilitas Hiperbarik Puskesmas Tanjung Batu Tak Bisa Digunakan

13 Oct 2026 | Daerah

TANJUNG REDEB. Alat terapi oksigen hiperbarik (Hyperbaric Chamber) di Puskesmas Tanjung Batu, Kabupaten Berau, dipastikan tidak dapat difungsikan untuk melayani masyarakat maupun wisatawan yang mengalami dekompresi. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Berau menegaskan, pengoperasian fasilitas tersebut di tingkat Puskesmas bertentangan dengan regulasi dan berstatus ilegal secara hukum.
Kepala Dinkes Berau, Lamlay Sarie, menyatakan kebijakan penutupan layanan ini merujuk pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 5 Tahun 2021, UU Kesehatan Tahun 2023, serta PMK Nomor 11 Tahun 2025. Sesuai aturan Kemenkes, pengoperasian alat kesehatan berisiko tinggi seperti hiperbarik hanya diizinkan di fasilitas Rumah Sakit atau Klinik Utama, bukan puskesmas.
"Sesuai regulasi itu, puskesmas tidak diizinkan mengoperasionalkan alat tersebut. Apabila sebuah layanan kesehatan nekat mengizinkannya, tindakan itu ilegal dan bisa diproses hukum," tegas Lamlay.
Atas dasar pertimbangan keselamatan hukum para tenaga kesehatan, Dinkes Berau melarang keras segala bentuk pelayanan hiperbarik sebelum perizinan resmi dikantongi. Rencana pemindahan alat ke rumah sakit juga terganjal estimasi biaya relokasi yang mencapai Rp6 miliar serta ketidakpastian fungsional alat pascapemindahan. Sebagai solusinya, Dinkes tengah berupaya melobi Kemenkes agar diberi izin mendirikan Klinik Utama daerah.
"Dari sisi regulasi kami tetap memperjuangkan di tingkat pusat. Namun, tantangannya besar karena kita tidak hanya berhadapan dengan Peraturan Menteri Kesehatan, tetapi juga undang-undang," terangnya.
Meski Berau menjadi satu-satunya kabupaten di Indonesia yang memiliki alat hiperbarik mandiri guna menunjang pariwisata bahari Maratua dan Derawan, pemanfaatannya harus tetap patuh aturan. Sembari menunggu kejelasan dari pusat, Dinkes mendorong penguatan kapasitas diving guide melalui pelatihan K3 dan sertifikasi pertolongan pertama dekompresi.
"Nah kita berharap supaya kita juga dilibatkan dalam membangun pariwisata ini supaya kita dapat menginventarisasi alat-alat keselamatan yang dibutuhkan, lalu K3-nya bisa libatkan Disnaker," pungkasnya. (**)