Universal Media
Karhutla Lahap 20 Hektare, Asrama TNI Nyaris Dilalap Api

Karhutla Lahap 20 Hektare, Asrama TNI Nyaris Dilalap Api

27 Oct 2026 | Peristiwa

SAMARINDA. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda belakang Asrama Batalyon Zeni Tempur (Yonzipur) tepatnya di RT 16, Kelurahan Makroman, Kecamatan Sambutan, Selasa (27/10/2026). Api yang berkobar sejak siang hingga dini hari, menghanguskan sekitar puluhan hektare lahan dan nyaris merembet ke bangunan asrama TNI.
Kencangnya embusan angin membuat api cepat membesar dan menjalar ke area yang lebih luas. Kondisi tersebut membuat petugas gabungan harus bekerja ekstra untuk mencegah kobaran api mendekati kawasan asrama.
Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda bersama BPBD Provinsi Kalimantan Timur, prajurit TNI dan relawan gabungan berjibaku melakukan pemadaman di tengah medan yang sulit.
Warga RT 16 Kelurahan Makroman, Ardi, mengatakan, api masih menyala hingga malam hari. Meski demikian, kondisi kebakaran di wilayahnya masih terkendali.
Ardi mengaku tidak mengetahui secara pasti penyebab kebakaran.
Namun, berdasarkan pengamatannya, api diduga kembali membesar akibat sisa bara dari kebakaran sebelumnya yang tertiup angin kencang.
“Sepertinya dari kemarin ada sisa bara api terkena angin. Saya melihat sendiri api itu berterbangan dan membakar lahan di sekitarnya. Anginnya sangat kencang,” ungkap Ardi.
Menurutnya, kobaran api tiba-tiba membesar dan kembali menyebar ke lahan di sekitarnya. Kondisi tersebut membuat warga waspada lantaran angin cukup kencang.
"Warga siaga semua. Takut jika merambat kepermukiman penduduk," ujar Ardi
Koordinator lapangan BPBD Samarinda, Nanang Arifin mengatakan, kebakaran meluas sejak siang hingga malam hari. Luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 20 hektare.
“Kami bersama BPBD provinsi, rekan-rekan TNI, dan relawan gabungan masih bahu-membahu melakukan penanganan,” ujarnya saat memberikan laporan dari lokasi kejadian.
Menurutnya, titik api berada di belakang Asrama Yonzipur dengan jarak sekitar 20 meter dari kawasan asrama. Kedekatan kobaran api dengan bangunan tersebut membuat upaya pengendalian menjadi sangat penting agar api tidak merembet lebih jauh.
Selain angin kencang, keterbatasan sumber air turut menjadi kendala utama dalam proses pemadaman. Petugas harus mengatur suplai air secara bergantian, sementara mobil tangki pemadam terpaksa bolak-balik mencari dan mengisi air untuk memenuhi kebutuhan di lapangan.
Situasi tersebut membuat proses pemadaman membutuhkan upaya ekstra. Petugas harus terus mengendalikan titik api sekaligus mengantisipasi kemungkinan kobaran kembali membesar akibat tiupan angin.
Hingga dini hari, tim gabungan masih melakukan penanganan di lokasi kebakaran. Upaya pemadaman difokuskan untuk mengendalikan api agar tidak semakin meluas dan mengancam bangunan di kawasan Asrama Yonzipur.
“Di tengah angin kencang dan keterbatasan sumber air, kami bersama seluruh tim gabungan terus bahu-membahu melakukan pemadaman. Kami berupaya agar api tidak semakin meluas dan merembet ke kawasan Asrama Yonzipur,” tutup Nanang. (**)