Universal Media
Perumda Air Minum Batiwakkal Kembali Perjuangkan Proyek Jaringan Pipa

Perumda Air Minum Batiwakkal Kembali Perjuangkan Proyek Jaringan Pipa

14 Oct 2026 | Daerah

TANJUNG REDEB. Proyek pembangunan jaringan pipa dari Kampung Merancang menuju Tanjung Batu, sebenarnya sudah masuk dalam persetujuan.
Namun kurangnya anggaran daerah kabupaten, mendesak Perumda Air Minum Batiwakkal untuk memperjuangkannya lewat jalur provinsi.
Alih-alih diterima, malah layanan kebutuhan dasar masyarakat itu dicoret. Kini bersama instansi terkait lainnya seperti DPUPR Berau, proyek itu siap diperjuangkan kembali.
Direktur Utama Perumda Air Minum Batiwakkal, Saipul Rahman mengungkapkan bahwa perencanaan teknis proyek raksasa ini sebenarnya telah matang disusun bersama DPUPR Berau.
Apalagi permasalahan itu juga sudah berulang kali diusulkan oleh masyarakat di wilayah itu dalam pelaksanaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang).
"Karena anggaran daerah terbatas, kami usulkan ke PU Provinsi. Sempat mendapat angin segar bahwa usulan disetujui, namun pada akhirnya dicoret dan dialihkan untuk pembangunan di wilayah Biatan," ungkapnya.
Disampaikannya, apabila dilaksanakan proyek senilai Rp 65 miliar itu akan dibangun kurang lebih sepanjang 80 Km dari Merancang hingga Tanjung Batu.
Nilai anggaran yang ada akan mencakup pengadaan pipa utama, jaringan distribusi ke pemukiman warga termasuk di wilayah Ulingan, hingga pembangunan pompa penguat (booster pump).
Dengan bentangan mencapai 80 kilometer, Saipul mengakui bahwa proyek ini mustahil ditopang sendirian oleh APBD Kabupaten Berau.
Karena itu, pihaknya akan kembali merapatkan barisan dengan lintas instansi dan lembaga legislatif untuk mencari jalan keluar pembiayaan.
"Kami akan segera berkoordinasi kembali dengan Dinas PUPR untuk mematangkan ulang perencanaannya. Kami juga meminta dan berharap penuh kepada DPRD Berau untuk ikut mengawal dan memperjuangkan anggaran ini di tingkat provinsi maupun pusat," jelasnya.
Menurutnya, urgensi pembangunan jaringan pipa dari Merancang ini kian mendesak karena menipisnya opsi sumber air baku alternatif di wilayah Tanjung Batu.
Pasalnya, karakteristik geografis menuju wilayah pesisir tersebut sangat rentan terhadap krisis air.
Sesuai pantauan Perumda, potensi air permukaan terdekat seperti Sungai Jarum-Jarum bahkan tidak lagi bisa diandalkan secara konsisten akibat faktor alam.
"Kami sempat memantau langsung kondisi Sungai Jarum-Jarum untuk dijadikan salah satu sumber air baku, tetapi ternyata sempat mengering. Sehingga perlu ada antisipasi jangka panjang," pungkasnya. (**)