Tebal Saat Dini Hari, Kabut Asap Berkurang Ketika Ada Matahari
SAMARINDA. Kondisi kualitas udara di Kota Samarinda masih dipengaruhi keberadaan asap dan partikel di atmosfer. Namun, secara alami kualitas udara cenderung membaik ketika matahari mulai bersinar.
Kepala BMKG Kota Samarinda Riza Arian Noor menjelaskan, berdasarkan analisis kondisi kualitas udara di Kalimantan Timur dalam beberapa pekan terakhir, terdapat pola peningkatan konsentrasi partikel mulai dini hari hingga menjelang pagi.
Kondisi tersebut dapat membuat kualitas udara berada pada kategori tidak sehat hingga sangat buruk. Bahkan, pada beberapa waktu sebelumnya, kondisi kualitas udara sempat mencapai kategori terburuk.
"Kalau kita lihat dari dini hari hingga menjelang pagi itu ada tren peningkatan. Beberapa hari kemarin ada kondisi dari tidak sehat menjadi sangat buruk," ujar Riza, Selasa (6/10/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut biasanya berangsur membaik ketika radiasi matahari mulai meningkat. Sinar matahari membantu mengangkat partikel-partikel yang berada di dekat permukaan sehingga konsentrasi polutan perlahan menurun.
"Biasanya sekitar pukul 09.00 sampai 10.00 Wita sudah mulai membaik," jelasnya.
Namun, kondisi itu tidak selalu sama setiap harinya. Keberadaan sumber titik panas di sekitar Samarinda maupun wilayah lain di Kalimantan Timur dapat membuat kualitas udara bertahan lebih lama pada kondisi kurang baik.
Riza mencontohkan, pada hari sebelumnya kualitas udara di Samarinda cenderung berada pada kategori sedang sepanjang hari. Artinya, kondisi tersebut tidak hanya terjadi pada pagi hari, tetapi dapat bertahan dari pagi hingga sore.
Faktor lain yang turut membantu memperbaiki kualitas udara adalah hujan. Riza mengatakan, hujan merupakan proses alami yang dapat mencuci partikel-partikel di atmosfer.
"Artinya asap itu bisa dicuci secara alami dengan kondisi hujan. Tetapi bukan hanya hujan satu hari. Kalau terjadi hujan beberapa hari secara masif, tentunya akan bisa mencuci atmosfer kita dan menjadikan kualitas udara lebih bagus kembali," katanya.
Selain curah hujan, arah angin juga menjadi faktor penting dalam menentukan penyebaran asap yang masuk ke wilayah Kalimantan Timur, termasuk Samarinda.
Menurut Riza, sumber asap yang memengaruhi suatu wilayah sangat bergantung pada pola dan arah angin. Jika angin bergerak dari selatan, sumber titik panas di wilayah selatan dapat memberikan pengaruh terhadap kualitas udara di Kalimantan Timur.
Sementara apabila angin bergerak dari barat daya, maka sumber titik panas dari wilayah barat daya berpotensi membawa partikel asap menuju Kalimantan Timur.
"Kalau arahnya dari barat daya, tentunya sumber-sumber titik panas yang ada di wilayah barat daya yang bisa memengaruhi kondisi kualitas udara di wilayah Kalimantan Timur," pungkasnya. (**)